Kamis, 13 April 2017

PEMURIDAN


PEMURIDAN OLEH: JULIANTO CAHAYA PUTRA LUAHAMBOWO

BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang

Kata murid dan pemuridan sering dipergunakan sehingga maknanya tidak jelas atau lemah. Kata–kata tersebut juga sering diartikan dengan sesuka hati oleh para penggunanya. Seseorang pernah mengatakan, “Saat menggunakan suatu kata, saya memilih makna untuk kata itu – tidak lebih dan tidak kurang.“ Akan tetapi, kalau kita ingin memahami pengajaran Tuhan Yesus mengenai pemuridan, kita harus memahami atau mengerti apa yang Ia maksudkan dengan istilah tersebut, bukan apa yang kita maksudkan. Kita harus menguji penjelasan-penjelasan tentang pemuridan dalam pengajaran Yesus dan murid–murid-Nya  supaya kita bisa belajar mengenai konsep pemuridan yang sejati.

Seorang murid adalah seorang siswa, seorang pelajar. Pemuridan adalah suatu proses ketika seorang mentor melatih dan membantu seseorang belajar tentang sesuatu dan melakukan sesuatu secara praktis. Waktu Tuhan Yesus memilih murid-murid, “Ia menetapkan dua belas orang supaya mereka berada bersama Dia dan supaya Dia mengutus mereka untuk berkhotbah.” (Mrk. 3:14). Para murid itu hidup bersama Juruselamat, mendengarkan pengajaran-Nya, mengamati gaya hidup-Nya, dan kemudian bergerak keluar untuk menyebarkan dan memberitakan pesan–pesan-Nya.

Inilah suatu bentuk pelatihan secara praktis di lapangan. Pemuridan juga dapat dilihat dalam surat Paulus kepada Timotius,  “Hal-hal yang telah engkau dengarkan dari padaku di antara banyak saksi, percayakanlah hal-hal itu kepada orang-orang yang setia, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2Tim. 2:2).

Kita dapat belajar bahwa dalam ayat ini ada empat “generasi” orang percaya, yaitu Paulus, Timotius, orang–orang yang dapat dipercaya, dan orang-orang lain. Penyebaran iman Kristen bergantung pada keterlibatan setiap orang percaya di dalam proses perlipatgandaan ini. Pelatihan ini pasti merupakan cara yang paling baik. Jika ada cara yang lebih baik, Tuhan Yesus telah menggunakannya.

2.    Rumusan Masalah
a.    Pemuridan




















BAB II
PEMABAHASAN
PEMURIDAN

1.    Menjadi Murid Yang Sejati

Dalam latar belakang sudah membahas istilah dan arti pemuridan, namun disini kelompok III langsung membahas tentang tujuan pemuridan. Tujuan pemuridan adalah bahwa seorang pelajar kelak bisa menjadi seperti gurunya. “Cukuplah bagi seorang murid jikalau dia menjadi sama dengan gurunya, dan demikian bagi seorang budak jikalau dia menjadi sama seperti Tuhannya.“ (Mat. 10:25).

Seorang guru tidak dapat memimpin siswanya lebih jauh atau lebih tinggi daripada tingkat yang telah dia capai. “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.“ (Luk. 6:40). Anda tidak dapat mengajarkan apa yang tidak Anda ketahui. Anda tidak dapat memimpin orang lain ke tempat yang tidak Anda inginkan.

Setiap orang Kristen sejati adalah seorang murid Tuhan Yesus. Selain kedua belas murid, masih terdapat banyak orang lain yang mengikuti Yesus. Mereka semua juga diakui sebagai murid–murid-Nya. Di antara mereka terdapat bermacam-macam “tingkat” pemuridan. Iman dan ketaatan menentukan hal ini. “Sama seperti yang kamu percayai, jadilah bagi kamu.“ (Mat. 9:29). “Jikalau kamu tetap tinggal di dalam Firman-Ku,  kamu benar–benar murid-murid-Ku.“ (Yoh. 8:31). Bahkan, orang yang tidak percaya sekalipun kadang–kadang disebut  “murid”, yaitu murid palsu. Dalam Yohanes 2:23–24 tertulis tentang beberapa “orang yang percaya dalam nama-Nya”, tetapi Yesus tidak memercayakan diri-Nya sendiri kepada mereka. Ia tahu bahwa mereka tidak pernah dilahirkan kembali – kepercayaan mereka tidak sejati. Sekali lagi dalam Yohanes 6:66 dikatakan, “Mulai dari waktu itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” Mereka membuktikan ketidaksejatian mereka terhadap Putra Tuhan. Mereka bukan milik-Nya. Keberadaan mereka sebagai murid hanya muncul di permukaan saja. Lihatlah Yohanes 8:31–33.

Tuhan Yesus adalah seorang murid yang sejati. Dalam Yesaya 50:4–5, Ia berfirman, “Tuhan, TUHAN telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberikan semangat baru kepada yang letih lesu. Dia membangunkan aku pagi demi pagi, Dia mempertajam telingaku untuk mendengar seperti seorang murid.“ Setiap pagi Ia datang ke hadapan Bapa dan menerima perintah–perintah untuk hari tertentu itu. Kurikulum bagi murid-murid Kristen yang sejati didapatkan langsung dari Alkitab, Buku Firman Tuhan. Seorang murid yang dewasa harus mengerti Firman Tuhan serta menaatinya. Salah satu kunci penekanan dalam Perjanjian Baru adalah pengembangan karakter Kristen.
•    Matius 5:1–12 menjelaskan karakter orang percaya yang sejati.
•    Yohanes 15:1–17 menyebutnya sebagai “kehidupan yang bertahan.“
•    Galatia 5:22–23 menyebutnya “buah Roh.”
•    Efesus 6:10–20 menyebut karakternya “keseluruhan senjata perlengkapan
•    perang Tuhan.“
•    2 Petrus 1:5–11 menjelaskan beberapa ciri khas murid-murid-Nya.

Tampaknya karakter seorang murid lebih penting daripada pelayanannya.  Pemuridan lebih daripada sekadar mempelajari bermacam bab di dalam sebuah buku. Pemuridan adalah suatu pelatihan secara praktis di lapangan pelayanan Kristen. Dalam pemuridan, murid menghabiskan waktu bersama pelatih dan terlibat bersama dia dalam berbagai macam jenis pelayanan Kristen. Para pria mungkin dapat mulai melayani dengan berkhotbah, mengajar, menginjili orang lain secara pribadi atau secara umum, melakukan konseling, dan mengunjungi orang lain. Para wanita bisa mulai mengajar wanita-wanita lain,  melakukan konseling dan mengunjungi wanita lain.
Melalui keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan ini, seorang murid akan segera dapat mengetahui karunia-karunianya. Seorang pelatih yang memuridkan seorang percaya lain harus menjadi sahabat siswanya, meskipun kemajuan si pelajar tersebut mungkin saja lambat. Seorang mentor atau pelatih tidak harus menjadi seorang yang terlalu ketat atau terlalu banyak menuntut. Ia harus menyediakan waktu untuk mendengarkan muridnya, berbicara dengan dia, berolahraga, dan senantiasa siap membantunya waktu ada keperluan.  Seseorang yang memuridkan orang lain harus senantiasa mengandalkan Roh Kudus sebagai pembimbing pribadinya dan tidak hanya mengikuti program atau jadwal tertentu.
2.    Pemuridan Dalam Alkitab

a.    Dalam PL
1.    Musa dan Yosua

Visi yang diberikan oleh allah kepada musa adalah untuk membawa umat israel keluar dari mesir menuju tanah yang dijanjikan tuhan.terdapat dalam keluaran 3:10,17. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya .

Dalam masa keluaran mereka dari tanah mesir tuhan memberikan sepuluh perintah melalui musa agar umat israel mengetahui peraturan yang harus mereka taati karena itu musa mendapat tugas selain sebagai pemimpin bangsa ia juga pembimbing rohani bagi bangsa israel. Nama yosua muncul pertama kali pada saat kedatangan orang amalek untuk berperang melawan orang israel. di situ yosua diperintahkan musa untuk memilih orang-orang israel untuk ikut berperang (keluaran 17:9) Pada keluaran 24:13 yosua sudah disebut sebagai abdi musa. Di sini sudah terjadi proses pemuridan di mana yosua selalu mengikuti tepat seperti yang diperintahkan Tuhan melalui musa. Saya yakin pengabdian yosua terhadap musa karena yosua sendiri telah mengatahui dengan jelas pengabdian musa kepada Tuhan. Karena itu yosua menyelesaikan tugas pengintaiannya ke negeri yang akan mereka tempati dengan sangat baik terbukti dari sikapnya yang berusaha menenangkan bangsa israel dan meyakinkan mereka bahwa mereka mampu mengalahkan orang-orang enak. Hal ini terlihat jelas bahwa yosua yang tadinya mengerjakan perintah dari musa kemudian menjadi seorang motivator bagi israel. Bukanlah suatu kebetulan bila ia akhirnya yang dipilih langsung oleh tuhan untuk menggantikan musa seperti terdapat dalam bilangan 27:18 Lalu TUHAN berfirman kepada Musa: "Ambillah Yosua bin Nun, seorang yang penuh roh, letakkanlah tanganmu atasnya, Ia juga mewarisi roh kewibawaan dari Musa, seperti dalam bilangan 27:19-20, suruhlah ia berdiri di depan imam Eleazar dan di depan segenap umat, lalu berikanlah kepadanya perintahmu di depan mata mereka itu dan berilah dia sebagian dari kewibawaanmu, supaya segenap umat Israel mendengarkan dia. Pemilihan yosua dilanjutkan dengan transfer visi yang dari pada tuhan kepadanya dalam ulangan 3:28 Dan berilah perintah kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatinya, sebab dialah yang akan menyeberang di depan bangsa ini dan dialah yang akan memimpin mereka sampai mereka memiliki negeri yang akan kaulihat itu dan tentu saja yosua berhasil memimpin bangsa israel dengan baik, perintahnya pun didengar oleh bangsa israel. Yosua berhasil melanjutkan tugas kepemimpinannya selama beberapa tahun kemudian seperti dalam kitab Yosua Yosua mulai memimpin perebutan tanah kanaan, serta mengintai Yerikho. Hal ini hanya dapat terjadi melalui pemuridan.

2.    Elia dan Elisa

Hidup dalam konteks di mana israel dilanda bencana kelaparan serta banyak terdapat nabi palsu. allah menyuruh elia memilih elisa untuk menolongnya dan meneruskan pekerjaannya setelah ia tiada. Elia tidak menemukan elisa sedang belajar dan bermeditasi di sekolah nabi-nabi, tetapi di lapangan sedang bekerja. Bisa kita lihat di dalam I raja-raja 19:15-16. 15  Firman TUHAN kepadanya: "Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. 16  Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engka.u Proses pemuridan yang dialami elisa diawali dengan satu kerelaan dari elisa sendiri. Elia tidak memohon elisa untuk pergi dengannya atau menggunakan jabatan kenabiannya untuk memaksa dia ke dalam pelayanan. Elisa sendiri memiliki kemauan untuk belajar dari elia dengan sukarela seperti terdapat dalam I raja-raja 19:19-21. Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya. 20  Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: "Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau." Jawabnya kepadanya: "Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu." 21  Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya. Kerelaan tersebut menjadikan elisa tidak rela meninggalkan pelayanannya bersama elia. Terlihat dalam II raja-raja 2:1-6 di mana elia meminta elisa untuk meninjau kembali hubungan mereka dan meminta elisa untuk meninggalkannya jika ia mau. Tetapi elisa tetap menolak dan tetap mengikuti elia. Sehingga elisa layak mendapat roh dari elia untuk melanjutkan tugas elia seperti yang telah tuhan perintahkan kepada elia.

b.    Dalam PB
1.    Yesus dan 12 Murid
Seperti tokoh-tokoh besar di atas, Tuhan Yesus sendiri menggunakan pemuridan sebagai suatu strategi yang efektif untuk penyebaran injil-Nya. konteks zaman Tuhan Yesus adalah penantian bangsa yahudi akan kedatangan mesias untuk membebaskan mereka dari penindasan bangsa romawi. Tuhan Yesus datang untuk memberitakan kabar bahagia bahwa mesias yang sebenarnya mereka nantikan adalah diri-Nya sendiri yang rela mati di kayu salib untuk membebaskan manusia dari kuasa dosa.

Namun dalam perjalanannya menuju salib, ia memusatkan pelayanan-Nya kepada pembentukkan beberapa murid. Murid-muridNya direkrut agar mereka dapat melanjutkan pekerjaanNya sehingga melalui proses pelipatgandaan tersebut sehingga injil akan sampai ke ujung bumi. Memang merupakan hal yang mustahil bila yang mengerjakannya hanya satu orang. Oleh karena visi yang dalam tersebut maka Tuhan Yesus meluangkan waktu selama tiga setengah tahun untuk selalu bersama 12 murid-Nya untuk dapat diajar mengenai kebenaran tentang diri-Nya. Yesus membukakan tentang hal-hal apa saja yang akan dihadapi oleh murid-muridNya seperti perlawanan dan penolakkan. Seperti yang terdapat dalam matius 10:16-18. "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah .

Di sini terlihat bahwa Tuhan Yesus benar-benar menyalurkan apa yang menjadi kebutuhan dari murid-muridNya pada saat itu. Mereka harus benar-benar siap dalam keadaan sadar. Tuhan Yesus memakai pemuridan untuk merancang murid-muridNya sedemikian sehingga hidup mereka harus menghasilkan buah yang kekal. Ada suatu kisah dongeng tentang percakapan antara Tuhan Yesus dan malaikat-malaikat setelah yesus naik ke sorga, pada saat Tuhan Yesus telah berada di sorga salah seorang malaikat bertanya kepada-Nya,”rencana apa yang Kau miliki untuk meneruskan pekerjaanMu di bumi?” Yesus menjawab tanpa ragu-ragu, ”aku meninggalkannya dalam tangan para rasul.” Malaikat yang lain bertanya, ”bagaimana jika mereka gagal?” Sekali lagi tanpa ragu-ragu jawab yesus, ”aku tidak mempunyai rencana lainnya!” Tuhan Yesus mengerjakan pemuridanNya dengan sempurna sehingga mampu mempercayakan tugasnya tanpa ragu.

Bagaimana dengan murid-muridNya sendiri? Apakah benar mereka tanpa ragu menerima tugas yang diberikan Tuhan Yesus? dalam matius 28:19-20 menjadi jawaban bahwa murid-muridNya menerima tugas yang Tuhan Yesus berikan tanpa komentar apapun. Alasannya hanya satu, mereka telah dibina dalam pemuridan dengan sempurna.

2.    Paulus dan Timotius
Konteks dalam zaman paulus dan timotius adalah pemberitaan injil serta perintisan jemaat-jemaat. Pemuridan paulus kepada timotius dimulai saat paulus mengetahui latar belakang dari timotius. Saat itu paulus meminta agar timotius bersama-sama dengan dia dalam pelayanan dan sejak itu timotius pun mulai terlibat dalam perjalanan misi kedua dari paulus. Pemuridan yang dilakukan paulus bertujuan agar timotius mampu membantu tugas pelayanan yang selama ini ia kerjakan.

Dalam surat-surat paulus tidak jarang ia menyebut timotius adalah rekan sekerjanya. Keterlibatan timotius di antaranya sampai mengurus persoalan-persoalan di korintus. Bisa kita lihat dalam 1 korintus 4:17; Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat. Juga dalam 1 korintus 16:10 Jika Timotius datang kepadamu, usahakanlah supaya ia berada di tengah-tengah kamu tanpa takut, sebab ia mengerjakan pekerjaan Tuhan, sama seperti aku. Selain itu juga timotius pun terlibat dalam penulisan surat kepada jemaat di tesalonika dan juga kepada filemon. 1 Tesalonika 1:1  Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu. 2 Tesalonika 1:1  Dari Paulus, Silwanus dan Timotius, kepada jemaat orang-orang Tesalonika di dalam Allah Bapa kita dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Filemon 1:1  Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami.

Keterlibatan Timotius dalam pelayanan membuat ia dipercayai paulus untuk memimpin gereja di efesus. Gereja-gereja bisa berkembang karena adanya pemuridan .


3.    Pentingnya Pemuridan

Dari keempat tokoh besar dalam pemuridan di atas bisa kita lihat bahwa pemuridan merupakan satu-satunya langkah yang tepat untuk dapat :
1.    Membantu Pekerjaan Pelayanan
Melalui keterlibatan dalam pelayanan menjadi bukti bahwa mereka serius dengan proses pemuridan yang mereka jalani. Selain itu melalui keterlibatan mereka dapat mengetahui kondisi seperti apa yang sedang mereka alami.
2.    Menyampaikan Visi Dengan Jelas
Melalui pemuridan akan tercipta komunikasi yang dalam sehingga proses mentransfer visi bisa dilakukan semaksimal mungkin.
3.    Melanjutkan Pekerjaan

Ini adalah hasil akhir yang diharapka dari pemuridan. Coba bayangkan kalau seandainya musa tidak memuridkan yosua, maka yang akan terjadi musa akan kebingungan siapakah yang akan menggantikannya memimpin bangsa israel sementara kondisinya sudah tidak memungkinkan. Atau elia tidak memilih elisa maka israel akan hancur akibat nabi-nabi palsu setelah kenaikannya ke sorga, bagaimana nasib dunia kita bila injil tidak diberitakan ke seluruh dunia? Tentu saja tidak ada gereja yang dirintis paulus dan rekan pelayanan lainnya. Atau ketika injil telah diberitakan dan tidak ada proses pemuridan dalam pelayanan paulus maka gereja tersebut akan mati.

Dari pemuridan yang dilakukan keempat tokoh di atas semuanya memiliki visi yang sama yaitu menjadikan muridnya sebagai pemimpin. Murid yang telah dibina perlu mendapat visi yang jelas agar siap menjalani tugas selanjutnya. Untuk itu kejelasan visi selama proses pemuridan perlu tersampaikan dengan baik agar murid yang dihasilkan setidaknya duplikasi dari pemimpinnya.

Bagaimana dengan pelayanan kita dalam PMK? Apakah visi untuk menjadikan murid sebagai seorang pemimpin ada dalam pemikiran kita? Jangan sampai visi kita hanya sebatas menjadikan adik binaan kita sebagai MBA alias Murid Budiman Abis. Ada baiknya kita menjadikan mereka sebagai FLOW (Future Leader Of the World).

Satu hal lagi yang perlu kita ketahui adalah keberhasilan mentransfer visi adalah ketika visi yang akan dikerjakan dilibatkan dalam konteks dunia yang sedang dihadapi. Seperti halnya musa yang dalam konteks keluaran bangsa Israel, elia dalam konteks bencana serta nabi palsu, yesus dalam konteks penyebaran injil, paulus dalam konteks penyebaran injil serta perintisan jemaat. Ketika dalam pemuridan yang mereka lakukan, mereka mampu menyampaikan kepada murid-murid mereka bahwa ini adalah kondisi dunia yang kita hadapi sekarang dan dunia ini membutuhkan kita.

Karena itu mari kita sama-sama menyadari kondisi dunia yang kita hadapi sekarang sehingga kita mampu menghasilkan orang-orang yang akan terlibat bersama kita. Dengan demikian kita tidak menjadi MBA tetapi FLOW. Itulah visi kita sebenarnya melalui pemuridan.


4.    Tempat Pemuridan

Tempat pemuridan dapat dilaksanakan dimana saja seperti:
a.    Gereja, yang dilakukan oleh Pendeta atau Gembala
b.    Sekolah, guru agama
c.    Kampus, Dilakukan oleh Dosen
d.    Rumah, dilakukan oleh orangtua
e.    Dilapangan-lapangan, dilakukan oleh tim pengijilan
f.    Dan di mana saja.





















BAB III
PENUTUP

1.    Kesimpulan
Secara garis besar pengertian pemuridan adalah proses menciptakan murid. Murid seperti apa yang ingin dihasilkan? Sebagai contoh ketika kita masuk dalam sebuah sekolah yang menjadi harapan dari orang tua kita adalah kita bisa mempunyai pengetahuan untuk menunjang masa depan kita. Secara sederhana hal ini menunjukkan bahwa hal yang ingin dicapai adalah adanya perubahan atau transformasi dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang kosong menjadi terisi.
Menjadi Kristen tanpa pernah menjadi murid, akan membuatnya hanya sebagai "bayi-bayi rohani". Seorang bayi hanya mengkonsumsi susu, demikian juga bayi rohani. Mereka tidak dapat mengkonsumsi makanan keras. "Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa" (Ibrani 5:11-14; 1 Korintus 3:2). Bahkan banyak terjadi orang yang baru saja menerima Tuhan Yesus meninggalkan imannya dari Tuhan. Hal itu terjadi karena yang bersangkutan tidak segera dimuridkan.
Tuntutan dari pemuridan adalah multiplikasi. Tuhan Yesus mempunyai 12 murid dan kemudian dari murid-murid tersebut terbentuk lagi jemaat-jemaat hasil penginjilan mereka. Dan dari jemaat tersebut injil mulai tersebar hingga ke seluruh dunia termasuk indonesia. Hal yang besar ini dapat terjadi melalui pemuridan.

2.    Saran

Sebagai saran kami dalam makalah ini yaitu: semoga dalam makalah ini dapat bermanfaat dalam setiap kehidupan kita,  khususnya kita yang masih belajar dalam kebenaran Firman Tuhan Yesus Kristus.








DAFTAR PUSTAKA

1.    BIBLICAL (LAI 2007)
2.    Pemuridan Seni yang Hilang, Leroy Eims
3.    Time For a Change, Dr.Larry Stout
4.    Ikutlah Yesus, Pedoman bagi mudrid-murid Yesus. William MacDonald
5.    Strategi Pemuridan. Time For a Change, Dr.Larry Stout


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar